Pemberangkatan Molor, SBMI Berhasil Kembalikan Uang CPMI Dari Perusahaan Penyalur


SBMI melakukan advokasi kepada tiga Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang tertunda pemberangkatannya hingga dua tahun, melalui jasa perusahaan penyalur pekerja migran, PT. Sahara.

LOMBOK TIMUR, OttNews.id– Hadir dalam kesempatan itu, Ketua SBMI, Kabid Ketenagakerjaan, para CPMI dan perwakilan dari PT. Sahara selaku pihak penyalur, Senin (20/07/2020).

Adapun dalam proses hearing tersebut, terungkap jika CPMI tertunda pemberangkatannya hingga dua tahun, sehingga merasakan ketidakpastian, sementara mereka telah menyerahkan sejumlah uang kepada pihak perusahaan.

“Kami menyerahkan uang masing-masing, saya enam juta, dua teman saya yang lain, serahkan uang lima juta,” kata Said selaku CPMI.

Ketua SBMI Lotim, Usman menerangkan lebih jauh terkait persoalan ini, termasuk sumber uang yang disetorkan oleh salah satu CPMI bersumber dari hasil pinjaman rentenir.

“Saya tegaskan di sini Pak Kabid, salah satu dari calon pekerja migran ini akibat dari tidak pastinya keberangkatan dia, sampai orang tuanya gangguan jiwa, karena uang yang disetorkan itu pinjaman yang sistemnya berbunga, bayangkan sudah dua tahun, sebelum ini tidak ada kejelasan,” kata Usman selaku Ketua SBMI.

Kemudian lanjutnya, di sisi lain perusahaan juga ternyata menahan dokumen dan identitas pribadi dari CPMI. “Kenapa juga perusahaan menahan dokumen identitas mereka, bayangkan KK, Ijazah mereka tahan selama dua tahun, akibatnya mereka tidak bisa mengurus urusan mereka, contohnya salah satu dari mereka tidak mendapat bansos kemarin gara-gara ini,” sesalnya

Salah satu petugas lapangan yang menjembatani keberangkatan CPMI melalui PT. Sahara, Abdul Wahid mengungkapkan tertundanya keberangkatan CPMI itu dikarenakan dampak dari Pandemi Covid-19, sehingga negara tujuan tidak menerima masuknya CPMI.

“Tertunda karena faktor Pandemi Corona, sehingga tidak bisa diberangkatkan,” katanya.

Berita Terkait:   Cegah Corona, Satgas Covid-19 Kecamatan Sakra Timur Sambangi Pasar

Tapi menurutnya, sekalipun demikian ketiga CPMI sudah menerima Visa, “Visanya sudah mereka terima,” jelasnya.

Kabid Ketenagakerjaan, Hirsan dalam kesempatan itu menerangkan, untuk mengantisipasi terjadi hal tidak diinginkan, dirinya meminta agar Paspor dari ketiga CPMI itu diamankan oleh pihaknya.

“Kami hanya berpatokan pada segi keamanan, kami hanya mengamankan, jangan sampai saudara kita memegang paspor, dan nanti berangkat secara ilegal,” terangnya.

Terkait dengan pernyataan Hirsan, pengacara SBMI, Yuza, membantah keras ungkapan tersebut.

“Kami dari SBMI yang menjamin, tidak perlu dinas yang mengamankan, kalo diamankan kita perlu surat sita dari pengadilan, dan memang tidak ada dasar hukum dilakukan itu oleh pihak Disnaker,” tuturnya.

Menindak itu, Usman kembali menegaskan jika pihak perusahaan harus bertanggungjawab atas keterlambatan pemberangkatan ketiga CPMI.

“Berdasarkan aturan apabila ada keterlambatan selama enam bulan, perusahaan harus tanggung jawab semuanya, ini kenapa sampai dua tahun,” tegasnya.

Akhirnya, para pihak yang hadir dalam acara tersebut bersepakat untuk melaksanakan keputusan bersama dalam surat perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, berupa pengembalian uang oleh PT. Sahara kepada ketiga CPMI tersebut.

“Uang telah diterima oleh adek-adek ini, kami dari SBMI berikutnya berharap, dokumen pribadi mereka juga sesegera mungkin dikembalikan oleh PT. Sahara,” pungkas Usman. (OTT 04)